Senin, 18 Agustus 2014

Welcome Back.

Terima kasih untuk emosi yang warna-warni. Maksudku, kau membuat emosiku jadi warna-warni beberapa hari terakhir ini.
Aku tak tahu apa yang akan terjadi sebentar lagi. Aku tak ingin menatap matamu lagi. Tatapanmu kembali seperti dulu. Tapi keberanianku tak lagi sama. Tak berani lagi mengartikan sesuatu dari matamu.
Ternyata benar, aku hanya menulis karenamu. Aku payah sekali, ya. Aku jadi takut menulis lagi. Atau perasaanku akan semakin meluap-luap.

Noting to say...
Selamat Datang Kembali.

Kamis, 17 April 2014

Peradaban Manusia Baru : Modernisasi Daun Kelor.

Pagi benar Bunda membangunkanku hari ini. Embun bahkan belum sirna karena matari pun belum muncul dari ufuknya sana. Aku sudah berjalan gontai menuju kamar mandi. Ku guyur tubuhku dengan segayung air yang terasa amat dingin pagi itu. Ku bersihkan tubuhku dengan sabun, lalu ku guyur lagi. Tak lupa rambut panjangku dicepol agar tidak basah.

Jam bahkan belum tepat menunjukkan pukul 5 pagi. Namun aku sudah siap dengan segala persiapanku. Ku teliti sekali lagi agar tiada satu pun yang tertinggal. Dan tepat saat Avanza Hitam itu berhenti di depan rumah, aku dan Bundanya dibawanya - berangkat menuju Surabaya.

Lebih kurang 4 jam perjalananku ditemani oleh mimpi, karena aku tertidur meski sesekali terjaga. Terjaga - lalu menoleh ke luar kaca, melihat sekitar. Dan karena kurang menarik perhatian, aku pun kembali pulas dalam mimpi-mimpiku.

Minggu, 30 Maret 2014

"Bintangku Jatuh!"

Dulu malamku selalu terisi oleh dirimu
Sesak akan bayang wajahmu
Cerah serupa sinar wajahmu
Serta tenggelam dalam bisik persahabatan kita

Dan kau yang dulu menjadi bintangku
Terima kasih atas kesediaanmu menggantung pada setiap langit malamku
Terima kasih atas kesediaanmu hadir di sampingku sampai selarut ini
Terima kasih atas kesediaanmu menerangi lelapku hingga fajar nanti

Sabtu, 22 Maret 2014

Bibirku yang Kini Bisu di Hadapanmu.

Maafkan aku untuk yang kesekian kalinya.
Pagi ini aku lagi-lagi menuliskan tentangmu, kawan. Apa kabar dirimu setelah sekian lama? Dan apa yang sedang kau lakukan pagi-pagi begini?

Kawanku yang teramat ku senang.
Mungkin perasaan ini telah pudar. Perasaan menyenangismu atau hasrat ingin memilikimu. Meski sejujurnya aku tak pernah ingin memilikimu. Aku yang telah lama tak bertanya kabarmu, begitu pula dirimu. Kita, yang telah saling lupa atau pura-pura lupa. Sekali lagi, apa kabar?
Alangkah indahnya cuaca pagi ini yang ku harap sama cerahnya dengan keadaanmu, disana.

Rabu, 26 Februari 2014

BARANGKALI SUDAH BENAR-BENAR BASI

Entah bagaimana yang sebenarnya terjadi - atau lebih tepatnya apa.
Sejatinya aku tak pernah meminta apa pun pada dirimu.
Sejujurnya aku tak pernah mengharapkan yang lebih-lebih.
Justru dirimulah yang mengiyakan, mengizinkan, dan memperbolehkan.
Dirimu sendiri yang bersedia menjadi bintang, bintangku.
Yang kuharap dapat bersinar terang di hatiku dan selalu ada untuk menghangatkan jiwaku.

Alih-alih menghangatkan gejolak jiwaku atau apa.
Tahu-tahu saja dirimu sudah jauh - lebih jauh dari jangkauan tanganku.
Dan barangkali jemariku takkan sanggup lagi meraihmu.
Barangkali jiwaku takkan bisa lagi berjalan seiring denganmu.
Tahu-tahu saja kau sudah mendahuluiku.
Berlari kencang menuju garis finish arena pacuan.
Tahu-tahu saja kau sudah meninggalkanku.

Selasa, 28 Januari 2014

TEMBOK BESAR...CHINA?

Kau tahu Tembok Besar China?
Tembok Besar China adalah bangunan terpanjang dalam sejarah manusia yaitu sepanjang 10.000 Li. Terletak di RRC, tembok ini dikonstruksikan pada periode Dinasti Qin.

Dan aku baru saja membuat tiruannya antara aku dan kamu. Seminggu lamanya aku menyusun noktah-noktah ketidaksukaan dan rimbun kebencian untuk menjaraki kita -- membendung perasaanku padamu, maksutku. 7 hari lamanya aku tak tersenyum, mengobrol, atau tertawa bersamamu. Bahkan aku terus berpaling ketika matamu dan mataku hampir bertemu. Aku tak lagi memilih bangku tepat di depanmu justru menjauh. Dan barangkali aku terlihat konyol kala itu.

Kamis, 16 Januari 2014

Setelah Seribu Menit Berlalu

Bagaimana perasaanmu ketika mendengarku hanya dari bangku penonton?
Bagaimana kau melihat sosokku dalam jarak itu?
Lalu bagaimana menurutmu pidatoku tadi?

Apakah kau menyoroti mataku?
Apakah kau mencermati bibirku?
Atau kau seolah tak ingin tahu?

Atau kau bahkan tidak mempedulikanku sama sekali?
Kalau begitu kita impas.

Aku juga tidak memperhatikanmu tadi.
Dan menganggapmu angin lalu.
Atau benarkah begitu?

Setelah sekian banyak yang terjadi dan seribu menit pun berlalu,
aku tidak tahu lagi bagaimana perasaanku padamu.
Apakah masih sama seperti dulu?

Dan sayangnya aku masih menuliskan sajak yang ala kadarnya ini,
untuk dirimu...