Kamis, 26 November 2015

Cinta Itu Bunga

Kalau hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga, maka cinta itu bunga.

Dan cinta kita itu... adalah bunga musim kemarau.
Yang mahkotanya mekar indah saat Jember sedang panas-panasnya dan tidak hujan.

Selasa, 24 November 2015

Terimakasih Sudah Meluangkan Banyak Waktu

Terimakasih sudah meluangkan banyak waktu.
1. Menemaniku chatting setiap malam.
2. Menemaniku jika aku ingin jalan-jalan.
3. Melancong ke Jenggawah, pulang sekolah, panas-panas, hanya demi semangkok bakso.
4. Mengiyakan saat kamu tanya "Makan dimana?" dan aku jawab "Pokoknya yang jauh!" Lalu kita nggak pulang-pulang.

Minggu, 22 November 2015

Maaf.

Pertama, maaf karena selama ini aku kurang percaya. Maaf karena aku telat mengetahui kebenaran tentang perasaanmu padaku. Maaf, bila kau merasa diremehkan. Maaf.

Kedua, maaf karena sikapku yang salah, membuat perasaanmu berubah. Dan aku tak tahu kemana perasaan cinta itu hilang. Apakah terbang ke udara? Namun punyaku tak kunjung hilang.

Ketiga, maaf karena perasaanku tak habis-habis sejak dulu. Atau memang tidak ada habisnya.

Keempat, maaf aku terlalu memaksakan banyak hal sehingga sistemnya jadi tidak seimbang. Justru sekarang aku kehilangan semuanya yang membuatku semakin terpincang-pincang.

Dan apakah caraku mencintaimu adalah cara yang salah? Karena aku begitu yakin kau adalah orang yang tepat. Meski tak dapat lagi kusematkan kata sayang, namun rindu ini setiap malam ku terbangkan.

Dan apakah aku yang tidak menoleh? Sehingga aku berlari sendirian dan tak sadar kau tertinggal jauh di belakang?

Jika aku kembali dan mengajakmu berjalan lagi, apakah kamu sudah tidak sudi bersama-sama diriku? Dan apakah kamu ingin pergi sejauh-jauhnya dari aku?

Apakah aku tidak bisa memperbaiki kesalahanku? Karena hatiku terlalu kurang ajar untuk diajak berhenti. Aku tidak bisa berhenti. Karena hati ini menolak untuk itu.

Apakah kamu tidak ingin berjalan lagi bersamaku?

Kemanakah perasaanmu pergi? Apa dia tidak akan kembali?

Mengapa perasaanmu secepat itu habis? Apa tidak dapat terisi kembali?

Apa ini sudah cukup lama untuk kamu, sehingga telah habis waktu untuk kita berdua?

Lalu apa salah diriku yang menginginkan sedikit saja lebih lama?

Sayang, apakah kamu tidak ingin kembali?

Andai balikan bisa semudah itu.

Sayang.

Maafkan aku.

Ps:  Maaf kalau bersamaku rasanya terlalu berat dan merepotkan. Maaf karena meski sudah putus pun, aku nyatanya masih merepotkanmu.

Jumat, 17 April 2015

Waktu Tlah Sampai

Pagi hari, saat Sang Saka mulai menyapa.
Aku tersenyum terkantuk-kantuk.
Berangkat ke sekolah.

Suatu sore, saat senja berebut petang.
Ombak lautan menyapu batas.
Berputar ke arah kanan.
Lalu berhenti di angka dua belas.

Dini hari, saat gelap telah datang.
Angin mendesau dari kejauhan.
Mengantarkan embun ke arah Selatan.

Aku ada disana.
Menjadi buih yang berwarna biru.
Dan aku pun ada disana.
Sebagai butir embun yang merindu.

Ketika denting jam berhenti,
Riuh ombak mulai padam dan tiada lagi suara angin,
Saatnya aku berbicara,

Selamat Ulang Tahun, Kawanku.
Selamat menikmati manisnya tujuh belas.
Dan tetap semangat, bila suatu saat terasa pahit.

Selamat Ulang Tahun, Sahabatku.
Semoga kau menjadi semakin baik.
Dan terkabul semua harapmu.
Serta membanggakan kedua orang tuamu.

Selamat Ulang Tahun,
Semoga kau terus menjadi temanku.
Maka aku akan mengucapkan selamat lagi tahun depan.
Dan tahun-tahun depannya lagi.

Semoga semakin dewasa di umurmu yang sekarang.
Dan selamat mendapat KTP dan SIM.

Selamat karena ulang tahun dan mendapat banyak ucapan.
Semoga seluruh doa untukmu terkabulkan.


Sa, mungkin semua ini hanyalah tulisan.
Jadi, jangan terlalu dipedulikan.
Dan perasaanku, jangan terlalu kau pusingkan.

Aku senang bisa menjadi seperti sekarang.
Ku harap kau juga senang, dan merasa nyaman.

Terus seperti ini saja aku senang.
Karena maju rasanya terlalu menakutkan.

Sudah ya Sa,
Selamat melanjutkan tidurmu.
Sampai ketemu di sekolah.
Dan semoga umurmu panjang, biar kita selalu berjumpa.

Sekali lagi,
Selamat Ulang Tahun, yang ke-tujuh belas :)
Tetaplah menjadi temanku yang manis, ya.

Kamis, 16 April 2015

DI DALAM HATIKU - berantakan

Selamat pukul setengah sebelas malam.
Dua hari menuju ulang tahunmu.

Susah rasanya menahan debar dalam hatiku.
Dan menahan perasaan yang meledak-ledak
Tentu tak semudah yang kau pikirkan.

Susah menahan rindu.
Dan mencari-cari modus ingin bertemu.

Terimakasih sudah mau jadi sasaran perasaanku.
Karena susah sekali terjatuh untuk orang lain.
Setelah aku terjatuh karenamu.

Dua malam tahun baruku selalu merindukanmu.
Dan semoga tahun depan masih begitu.
Sehingga tiga tahun SMA-ku praktis disesakkan olehmu.

Aku mohon maaf sekali karena aku tak bisa berhenti menulis.
Mohon maaf karena tak bisa biasa saja.
Ku harap kau mau memaafkanku.

Aku sangat gugup duduk di depanmu.
Bagaimana kamu yang satu bangku di belakangku?

Aku tak pernah punya alasan untukmu.
Aku tak pernah dapat menjawab pertanyaan orang-orang.
Tapi aku juga heran, kenapa semuanya terlalu penasaran?

Kawan, mungkin kau sudah tidur?

Aku malu sempat menggunakan kata sayang di tulisan yang lalu.
Walau itu hanya penyeimbang rima saja.
Agar terdengar indah, atau entahlah. Hehe.

Sampai jumpa besok pagi.
Dan besok paginya lagi.

Selamat malam,
Dan semoga tidur nyenyak.
Maaf tulisanku berantakan, hehe.

Minggu, 12 April 2015

Rindu untuk Dirimu

Sayang, malam ini hujan.
Dan kau sedang berlibur di daerah tanpa sinyal.

Sayang, udara sangat dingin.
Dan mungkin kau sedang berlindung dari hembusan angin.

Hehehe, kau lagi apa sekarang?
Aku rewel tak mengetahui kabarmu sejak tadi sore.
Padahal aku sangat ingin dikirimi foto-foto.

Meski katanya daerah pantai jarang hujan,
Aku sangat penasaran,
Apakah disana hujan?
Dan apakah kau kedinginan?

Cepatlah pulang dan balas pesan singkatku.
Aku rindu, hehe.
Aku bingung harus ngapain.
Aku bosan menonton drakor dan ingin chatting sama kamu.

Kau malam ini makan apa?
Tidur dimana?

Kalau mungkin disana tidak hujan,
Hawa hangat dan langit kemerahan,
Ku harap kau dapat tidur dengan nyaman.

Ketika kau melihat kemilau cahaya di perairan.
Bisik manja ombak lautan.
Atau rayuan lembut angin malam.
Ku harap kau sedang memikirkanku.

Dan ketika bulan hampir jatuh.
Lalu kau tertidur.
Ku harap kau masih memikirkanku.
Hehe.

Aku ingin sekali ikut kesana.
Rasanya seru membayangkan aku bermain bersamamu.
Kapan-kapan kesana lagi ya, sama aku.
Semoga kau mau!

Sayang, kau mau tidur jam berapa?
Tidurlah dengan aman.
Karena aku takut disana banyak ular.

Sayang, kau mau tidur jam berapa?
Udara semakin dingin.
Ku harap kau dapat hangat di dekat api.

Dan menu makan malammu,
Ku harap kau kenyang.

Dan besok pagi,
Ku harap kau mandi dengan segar.

Kalau kau sedang tak beratap,
Aku sedang tidak menatap langit,
Karena aku berada dalam kamar.

Tapi, kalau kau rindu.
Aku juga merindukanmu.

Sayang, masih pukul setengah sebelas.
Tapi rasanya sudah sangat malam.

Ku harap pagi cepat datang dan kau lekas pulang.
Aku akan selalu menunggumu datang.

Kamis, 09 April 2015

Apakah Itu Benar-benar Kamu?

Ini kisah tentang suatu sore,
Ketika mendung menggantung di langit timur.
Dan hujan turun dengan kakinya yang besar-besar.

Sesaat kemudian, udara menjadi sangat dingin.
Lalu kita mencoba untuk saling menghangatkan.

Tiba-tiba lagi kau melepas pelukan.
Dan aku terenyak menatap kau berlari menuju kejauhan.

Angin mengajakku menari ke arah utara.
Saat kau terus berlari sebaliknya.
Bintang malam membisikkan mimpi-mimpi.
Ketika bulan berdendang tentang perpisahan.

Aku melangkah ditemani aroma mawar.
Atau daun-daun kering di musim gugur.
Bagaimana kabarmu di selatan?

Pada langkahku yang ke-sekian ribu, saat petang datang.
Burung camar hinggap di sebelah kiri tapakku.
Dan cakarnya tenggelam di lumpur.

Kau tahu apa yang dia katakan?
Kicaunya bercerita tentangmu.
Lalu bernyanyi merdu, katanya kau sudah punya yang baru.

Bibirku membisu namun imajiku berangan-angan.
Kakiku berjalan dan tanganku menggapai udara.
Kosong.

Dan ketika mataku terbuka pada hari yang ke-seribu.
Aku sadar jejakku sudah terlalu jauh.
Dan mungkin perasaanku sudah terbang.
Bersama angin.

Namun kian hari kian ku hirup angin itu.
Angin perasaanku sendiri.
Yang membuatku tak pernah sanggup.
Berhenti menyukaimu.

Lalu tiba-tiba saat memandang langit malam.
Aku merindukanmu.
Dan kedua bintang di ujung, seolah menatapku.
Menyiratkan balasan rindu.

Dan ini terjadi ketika senja.
Ketika ku pikir kau telah musnah bersama debu.
Ketika ku pikir hanya tinggal aku dan perasaanku.

Aku menoleh.
Dan baru sadar.
Telah terulur tali panjang di belakangku.
Yang ujungnya terikat di antara kakimu dan kakiku.

Kawan, apa kau masih di ujung sana?
Langit yang oranye membuatku menyipitkan mata.
Dan dengan mata yang terpejam.
Dengan bodohnya aku memutuskan untuk kembali jatuh.

Pada pagi dan siang selanjutnya.
Aku melihat sosok hitam berjalan mendekat.
Dan aku tahu itu kamu.
Dan kita akan bertemu dalam rindang pohon kenari.
Yang jaraknya masih dua ribu langkah lagi.

Aku tanpa malu menggulung bagianku.
Dan berlari ke arah kenari.
Berlari ingin menemuimu.

Hingga tinggal seratus langkah di hadapanku.
Kita saling berhenti dan memperhatikan.
Apakah itu benar-benar kamu?

Selanjutnya kau memimpinku di depan.
Karena aku terlalu takut untuk berdampingan.
Kita berjalan bersama-sama ke arah barat.
Tapi, apakah itu benar-benar kamu?

Kawan, aku tak berani mendekat.
Karena takut kau akan memelukku.
Lalu kembali kabur seperti masa yang lalu.

Kawan, aku ingin menegurmu.
Tapi terlalu malu untuk menepuk pundakmu.
Kawan, apa itu benar-benar kamu?

Dengan jarak seratus langkah saja aku sudah cukup senang.
Dan selalu berdebar.
Kamu, bagaimana?
Dan ngomong-ngomong, kita akan kemana?

Sabtu, 04 April 2015

Apa Kabar? Masih Rajin ke Gereja, kan?

Maaaaaaasssss
Apa kabaaaaar?
Sekolah dimana sekaraang?

Nggak kerasa udah 2 tahun lebih mas.
Walau aku sempat menemukanmu beberapa waktu yang lalu.
Kamu kini hilang lagi.
Dimana? Aku tak tau.

Mas, baikan yuk mas.
Temenan lagi, biar aku bisa cerita-cerita.
Sebagai kakak kelas, bukan sebagai mantan.

Gak nyangka aja tiba-tiba terentang jarak diantara kita.
Jarak yang begitu jauh.
Hingga aku tak dapat meraih tanganmu.
Dan kau tak akan menoleh ketika aku memanggilmu.

Padahal aku rindu.
Ingin bercerita.
Tentang hatiku.
Aku hanya ingin kau tahu.

Bahwa,
Mas, susah sekali rasanya menerima cowok setelah putus sama kamu.
Susah juga rasanya dapetin cowok yang aku taksir.
Sekalinya udah deket aja, akunya ditinggalin.

Tiba-tiba aku pengen ketemu kamu mas.
Pengen nanya.
Kamu kenal gak sama angin? Kenal sama bintang?
Mereka dua orang yang bikin aku menangis.
Setelah aku puas menangisimu.

Kalau mungkin mas nggak kenal, nggak apa.
Aku cuma pengen cerita aja.
Mas mau kan mendengarkan?

Walau aku nggak tau kamu sedang apa.
Sedang berada dimana.
Dan bersama siapa.
Aku yakin kau sedang memandang gerhana yang sama.

Walau aku menikmatinya sendirian di bawah langit.
Aku tak peduli kalau kau berduaan.
Cuma ingin minta waktumu.
Sedikit saja, untuk mendengarkan ceritaku.

Dan aku sebenarnya sudah hampir lupa.
Sama kenangan-kenangan kita.
Tapi masih saja aku segan untuk beli es buah dekat stasiun.
Karena rasanya aku cuma berani kesana sama kamu.

Aku itu penasaran sekarang Mas sehari-hari ngapain.
Sepeda Mas sekarang apa.
Helmnya apa.
Hapenya apa.
Apa sudah ganti?

Dan apa jaket dariku masih dipakai?
Atau sudah dijadikan serbet?
Kaos dariku juga. Apa sudah jadi keset?

Dan...rumahmu.
Apa masih disitu mas?
Dan...gerejamu.
Apa masih rajin ke gereja mas?
Karena aku sudah tak lagi berpapasan dengan mobilmu.
Apa mobilmu sudah ganti juga?

Begitu banyak perubahan terjadi padamu.
Hingga aku tak dapat mengenalimu.
Dan aku tak dapat memanggil namamu.
Karena aku tak tahu siapa orang yang ada di depanku.

Mas, jangan nakal-nakal.
Kasian bapak sama ibukmu.
Semoga studimu cepat selesai.
Katanya mau kuliah di ITS, nggak jadi?

Sudah ya mas, sekian dulu sapaanku pada malam gerhana.
Semoga cepat dibalas pesan facebookku.
Semoga kita bisa bertemu.
Selanjutnya aku akan menceritakan semuanya padamu.

Selamat Malam.


Jumat, 03 April 2015

Kenapa Selalu Jatuh?

Selamat Pagi,
Selamat Hari Paskah,
Dan Selamat Libur.
Selamat Bangun Kesiangan.

Pagi ketiga di bulan keempat.
Lima belas pagi lagi menuju ulang tahunmu.
Kau ingin kado apa?

Sebenarnya aku sudah menyiapkan sesuatu.
Dan tak sabar ingin segera menunjukkannya padamu.
Tapi, kalau perasaan ini saja bisa ku tahan, berarti aku juga bisa menahan keinginanku.

Iya, aku sedang menahan hatiku.
Berusaha untuk tidak bercerita pada teman-teman.
Dan menahan senyum saat menatapmu diantara banyak orang.
Lalu juga mencoba untuk tidak terlalu berharap.
Karena tak mau memendam sakit bila jatuh.

Hubungan yang sembunyi-sembunyi saja sudah cukup.
Ketika tak ada orang yang tahu jelasnya.
Bahkan kita pun tak tahu bagaimana.

Kenapa ya rasanya aku selalu merebutmu dari yang lain?
Padahal aku tak bermaksud begitu.
Tapi rasanya aku berdosa sekali.

Dan kenapa aku selalu jatuh pada kamu?
Aku heran.
Jangan jangan kamu pakai bantuan dukun?

Kamu juga selalu menangkapku.
Lantas, bagaimana kita bisa menjadi teman?

Tapi, Temanku,
Terima kasih ya sudah sangat baik dan rela menangkapku.
Maka kalau pun kita jatuh, aku tak akan sendirian.
Ku harap kau masih bersamaku.
Walau kita jatuh.
Maka, kita dapat sakit bersama-sama dan saling menyembuhkan:)

Minggu, 29 Maret 2015

Salam!

Untuk kamu,
Yang membuatku tiga kali jatuh cinta.
Dan berjuta kali membenci.

Untuk kamu,
Yang besok duduk di belakangku.
Dan bisa melihat punggungku.

Selamat malam dan selamat belajar ya.
Semoga kau nyaman ditemani Sang Bulan.
Semoga Sang Bulan tak lupa menyampaikan salamku.

Kamu tahu nggak,
Aku merasa senang dengan semua yang berjalan ringan.
Dan tanpa memikirkan pendapat orang.

Aku senang bisa chatting walau tak setiap malam.
Lalu saling memandang pada setiap pagi.

Sebenarnya aku ingin sekali belajar bersamamu.
Tapi aku tak mampu.
Karena aku selalu gugup berada di dekatmu.

Sayang sekali ya,
Namun tak apa lah.
Yang penting tetap belajar bersama walau hanya lewat WA.

Tapi, seharian ini kenapa kamu tidak menghubungiku?
Padahal chatmu muncul di grup kelas.
Tapi, kalau kamu mau fokus belajar ya nggak apa sih.

Aku juga maunya begitu.
Tapi aku panas sejak tadi pagi dan menangis tadi sore.
Apa aku demam uts?

Kamu semangat ya belajarnya, semangat utsnya.
Tadi ada yang nyemangatin aku sih.
Walau aku pengennya disemangatin kamu.

Hehe,
Jadi, apa bulan sudah menyampaikan salamku?
Semoga sudah, karena sebelumnya dia tidak pernah lupa.

Dan, apakah kau menitipkan salam juga?
Kalau iya, aku akan menunggu sampai sebelum tidur.
Semoga bulan cepat kembali dan menyampaikannya.
Amin.

Jaljaeyo❤

Selasa, 24 Maret 2015

Berlari&Memelukmu

Sore yang melelahkan dan bau,
karena aku harus segera mandi.

Bagaimana denganmu? Apa badanmu sudah segar kembali?

Kala senja begini, aku ingin mengatakan sesuatu.
Semoga kau membacanya.

Kawan,
Sekuat apa pun aku berteriak tidak.
Sekeras apa pun aku menggelengkan kepala.
Hatiku selalu menggangguk malu-malu.

Dan walau hal ini cukup membuatku bingung.
Aku sangat ingin memenangkan pikiranku, daripada hatiku.
Namun aku tak tahu bagaimana.

Karena setiap malam aku selalu membayangkanmu sedang belajar.
Lalu setiap pagi aku mengharapkan segera bertemu kamu.
Dan setiap bel berbunyi, ku harap kita bisa pulang bersama-sama.

Di sore hari yang hujan,
Aku berharap bisa kehujanan bersamamu.
Walau nyatanya, kita berteduh di tempat berbeda.

Ketika aku berjalan pulang,
Aku ingin sekali diantar pulang kamu.
Dan kita mengobrol, walau hanya di atas sepeda.

Pada malam saat aku mau tidur,
Rinduku selalu menagih.
Ingin menghubungimu.
Walau ku tahu ini sangat memalukan.

Lantas bagaimana pikiranku dapat menang?
Kalau sepanjang hari aku selalu berpikir perasaan.

Kemudian selama aku melihatmu,
Aku berpikir kita memang tak mungkin lagi.
Hingga kau menoleh dan tersenyum, maka aku kembali bersemu.

Ayo, buang perasaan ini jauh-jauh.
Walau hatiku merasa sayang.

Lalu, apa yang harusnya aku lakukan?
Dan kita, apa yang akan terjadi pada kita?

Kawan,
Aku merasa sangat sayang pada hubungan kita yang selalu nanggung.
Aku merasa sayang pada perasaan yang selalu hampir.

Kawan,
Tidakkah kau ingin berlari dan memelukku?
Karena aku sangat ingin melakukan itu.

Minggu, 22 Maret 2015

Hehe...💦💦

Kawan,
Ketika semua orang mengatakan selamat pagi atau malam, aku menyapamu dalam siang.
Selamat siang dan selamat berpanas-panasan.

Ngomong-ngomong, aku kesulitan menulis.
Karena hatiku berdebar sejak tadi malam.
Walau sebenarnya tidak terjadi apa-apa.

Terima kasih untuk sabtu malam yang menyenangkan.
Dan mengantarku pulang sangat malam.
Dan mengembalikan ikanku yang ketinggalan.

Aku harap kau tidak bosan mendengar terima kasihku.
Aku harap kau tetap nyaman membaca kata maafku.
Dan jangan pernah berhenti membaca tulisanku.

Sejujurnya aku malu, dan sedikit ragu.
Kenapa hatiku selalu berakhir padamu?
Dan aku yang selalu layu saat melihat senyummu.

Dan kali ini aku terlalu takut.
Untuk mengharapkan yang sama darimu.
Karena aku tak ingin seperti yang lalu.

Kalau pun lagi-lagi perasaan ini ada.
Ku harap jangan ada yang memulai diantara kita.
Karena aku tak ingin segera mengakhirinya.

Kalau memang perasaan ini masih sama,
Maka aku akan mencintaimu dari belakang.
Karena kamu selalu berada di depan.

Aku berdebar melihatmu dari spion kaca.
Dan kata-katamu yang berbaur dengan angin.
Dan akan selalu begitu.

Entah kapan perasaan ini mati.
Entah kapan kita dapat berhenti.
Aku penasaran, bagaimana akhirnya akan terjadi.

Apapun yang kau rasakan,
Ku mohon kau jangan memulai.
Dan jangan mengulurkan tangan.

Dan bagaimanapun hatiku,
Ku mohon tolonglah aku.
Menghilangkan perasaan kepadamu.

Ku mohon jalanlah lurus, jangan berbalik arah.
Ku mohon tetaplah di depan.
Tak peduli padaku yang di belakang.

Bahkan sekarang aku takut berjalan beriringan.
Takut kau melihat semu di wajahku.
Atau senyum yang tersipu.

Dan bahwa aku sulit berkata-kata.
Juga panas dingin tubuhku.
Saat kau akan datang.

Aku terlalu malu pada orang-orang, juga padamu.
Aku terlalu takut pada diriku, juga dirimu.
Dan ragu pada perasaan yang masih sama.

Tetaplah menjemputku, karena aku merasa senang.
Tetaplah di depanku, dan akan kulihat kau dari belakang.
Sekali lagi terima kasih ya, dan maafkan perasaanku yang keterlaluan.

Hehe...
Selamat siang, kawan.
Semangat take filmnya...

Selasa, 17 Maret 2015

Maret-ku Tak Boleh Layu

Maret,
Ketika hujan sedang deras-derasnya.
Selalu datang bersama angin.
Menghalang mata untuk melihat indahnya senja.

Maret,
Ketika hawa menjadi sangat dingin.
Dan pagi hari yang begitu basah.
Sehingga kau harus ke sekolah dengan jaket rapat.

Maret,
Waktunya daun yang gugur bersemi kembali.
Yang malu-malu pada kuncup pertama.
Yang mekar karena tersiram cahaya.

Maret,
Saat rindu kembali menggebu.
Saat mataku kembali menatapmu.
Dan mengagumimu dengan pilu.

Maret,
Ketika perasaan itu muncul tanpa kata-kata.
Karena mata telah saling bicara.
Dan sungging senyum telah sama-sama mengaku.

Maret,
Perasaanmu dan aku tak kenal malu.
Diam-diam membisikkan kata rindu.
Dan segenap jiwa menyuarakan cinta.

Maret,
Dengan tanganmu kau berkata.
Langkah kakimu kemudian berbicara.
Dan aroma tubuhmu yang menyapa.

Maret,
Di pagi hari yang gelap.
Di sore hari yang gulita.
Apakah kau merindukan cinta?

Maret,
Tak lelahkah engkau bersemu malu-malu?
Dan menunduk lalu tersipu.
Atau pergi menjauh.

Maret,
Apakah perasaanmu sekuat itu?
Kuharap tidak karena aku membutuhkan bantuanmu.

Mari kita hilangkan perasaan ini dan mulai melangkah satu-satu.

Bantu aku melupakan kamu dan mulai menarik garis baru.

Ayo kita tiadakan perasaan yang memberatkan ini dan tetap berjalan berdua sebagai seorang teman.

Dan sepenuh hati kuharap, kau mau membantuku. Karena aku tak mau Maret-ku jadi layu.

Kamis, 12 Maret 2015

Untuk: Ibukmu.

Ibuk,
Terima kasih sudah melahirkan anak yang begitu manis.
Yang pernah membuatku berbunga walau pada akhirnya jatuh.
Yang pernah membuatku semangat datang ke sekolah walau pada akhirnya rapuh.
Yang pernah menjadi teman belajarku lewat wa, walau akhirnya saling tak menyapa.

Ibuk,
Aku harap anak ibuk menjadi anak yang baik.
Meski telah banyak air mata jatuh karenanya.
Semoga anak ibuk dapatkan cinta yang baik.
Diantara sejuta gadis yang memimpikannya.
Semoga anak ibuk selalu membahagiakan kedua orang tuanya. Dalam diam tawanya.

Ibuk,
Aku pernah sangat mencintainya.
Dan belum bisa benar-benar melupakannya.
Aku pernah sangat menginginkannya.
Dan belum bisa berhenti merindukannya.
Aku pernah dibuat tidak bisa belajar.
Karena terus memikirkannya.

Ibuk,
Air mataku pernah jatuh karenanya.
Namun jantungku belum bisa berhenti berdebar - saat berada di dekatnya.
Dan kata-kataku menari dengan indahnya - lagi-lagi karena dia.

Ibuk,
Bagaimana aku bisa mengabaikan tatapannya?

Ibuk,
Bagaimana aku harus merespon senyumnya?

Ibuk,
Ajari aku untuk tidak menoleh ke arahnya.

Ibuk,
Ajari aku untuk menunduk dan tidak membalas senyumnya.

Ibuk,
Tolong katanya padanya, jangan pernah menoleh dan tersenyum.
Karena aku lelah sakit, lelah berdebar, lelah menangis - karena dirinya.

Rabu, 11 Maret 2015

KAMU (yang sama dan sederhana)

Backsound : Sepatu - Tulus

Untuk seseorang tadi siang,

Apa yang kau rasakan?
Ketika langit melintang biru.

Apa yang kau rasakan?
Ketika mentari bersinar syahdu.

Lalu apa yang kau rasakan?
Ketika langit mulai kelabu.

Kawan,
maaf aku mengharapkan turunnya hujan hanya karena ingin kehujanan bersamamu.
Maaf jika kau pulang dengan jaket yang basah.
Dan terima kasih sudah mengantarku sampai rumah.

Kawan,
apakah kau juga mengharapkan yang sama?
aku pikir bukan hanya aku, namun juga dirimu.

Aku sangat membencimu, karena masih membuatku tersenyum malu.
Dan senyummu, yang masih membuatku rindu.
Juga tawamu yang terdengar palsu, untuk gurauku yang tidak lucu.


Untuk seseorang di depanku,

Terima kasih sudah menoleh ke belakang.
Walau aku terlalu malu untuk mengulurkan tangan.
Terima kasih sudah menoleh ke belakang.
Ketika akan minum es degan.
Dan terima kasih sudah berjalan di depanku.
Serta pundakmu sebagai pegangan.

Meski ku tahu kabarmu tidak baik-baik saja.
Aku selalu berharap sebaliknya.

Dan tetaplah menjadi sosok yang sama.
Dan janganlah kau ubah senyummu.
Dan jangan kau ubah sorot matamu pula.
Karena aku akan selalu merindukannya.

Kawan,
tolong katakan padaku bila rindu ini mengganggumu.

Kawan,
tolong katakan bila aku merepotkanmu.

Maka kau hanya tidak perlu menoleh kearahku - yang selalu berada di belakangmu.

Tetaplah menjadi dirimu, yang kucintai dengan sederhana.
Meski aku, tak pernah bisa mengupload foto kita bersama.

Tetaplah menjadi kamu, yang membuat wajahku bersemu.
Meski aku, tak pernah bisa tampil berdua bersamamu.

Dan tetaplah menjadi kamu, yang sama dan sederhana.
Karena aku mencintaimu!

Jumat, 06 Maret 2015

Very Simple Good Night

Untuk diriku - yang terlalu malu untuk bilang "Aku pulang dulu."

Untuk diriku - yang masih deg-deg-an saat kau melihatku.

Untuk diriku - yang gugup saat kau menyenggol lenganku.

Untuk diriku - yang terkadang masih merindu.

Aku ingin mengucapkan selamat malam untukmu. Dan semoga hawa yang dingin tidak mengganggu tidurmu. Juga rintik hujan yang masih turun, semoga tak mengusik lelapmu.

Kuucapkan selamat malam. Walau langit belum terlalu gelap. Dan hari belum juga larut. Serta jarum jam belum pada pukul sepuluh.

Kuucapkan selamat malam.

Karena aku ingin jadi yang pertama, sebagai ucapan pengantar tidurmu.

Senin, 26 Januari 2015

Kali Ini Tentang Rindu

Pelangi itu banyak warnanya. Seperti jatuh cinta yang berjuta indahnya. Walau berbagai hati telah menghampiriku, namun masih merindukanmu. Masih menginginkanmu. Meski sudah jelas, bahwa kau sama sekali bukan sosok yang pantas untuk diperjuangkan. Jadi...

Pernah ada seseorang yang menyambutku. Masuk dalam keseharianku. Sebut saja - Rindu. Sejujurnya, Rindu cukup keren, badannya tinggi, wajahnya juga lumayan. Dia pintar bermain gitar. Bahkan mampu membuat lagu-lagu yang cukup enak didengar. Salah satu melodinya pernah ia buat teruntuk diriku dan aku sangat berterima kasih untuk itu.

Aku mengenal Rindu pada tahun pertamaku di masa sma. Aku begitu sering membaca celotehnya di sosial media. Tulisannya gurih, enak dibaca. Hampir setiap malam aku mebaca pada timelinenya. Pada saat itu aku belum tahu yang mana dia, bagaimana rupanya. Aku menyayanginya lewat tulisan tangannya. Mengagumi dari pemikiran yang ia ungkapkan lewat kata-katanya. Hingga suatu hari di akhir pekan, aku tahu - yang mana itu yang namanya Rindu.

Lalu entah apa yang dia pikirkan. Mungkin dia menaruh perasaan. Namun diriku tak sedetik pun terpikir akan menaruh rasa yang sama. Dia lakukan apa itu yang dinamakan pendekatan. Rasanya aneh, disms seseorang, setelah sekian lama aku nggak smsan.

Dia sosok yang mudah salah tingkah bila ku berada di dekatnya. Dia nampak sangat gugup saat ku berada dalam jangkauannya. Apa yang harus aku lakukan? Nyatanya aku tidak merasakan getaran apa-apa.

Kali ini tentang Rindu dulu ya. Kapan-kapan aku akan menuliskan yang lain.
Selamat Malam.

(jangan) Sampai Jumpa Lagi

Maaf aku cuma bisa nulis tentang kamu.
Aku benar-benar nggak bermaksud gitu.
Jangan pedulikan aku. Aku juga tidak akan menoleh lagi ke arahmu.
Selamat tinggal, selamat jalan.