Kamis, 26 Desember 2013

INDONESIAKU DIJAJAH LAGI

Apapun yang terjadi jangan sampai kehilangan cinta pada negeri ini - Tanah Surga

Sekitar empat atau lima tahun yang lalu, guru ips-ku di sekolah dasar berkata,
"Memang negeri kita sekarang sudah merdeka. Namun kalian sebagai generasi muda, janganlah berpangku tangan saja. Apa yang harus kalian lakukan bukan berperang, tapi belajar dengan giat. Karena Indonesia sekarang berada dalam ancaman jajahan tekhnologi. Melalui produk-produk asing yang masuk ke negara kita."

Kau harap aku mengerti arti kalimat-kalimat itu? Tentu tidak.
Aku hanya membayangkan masih dapat mengibarkan bendera merah putih saja, tentu sudah tak ada masalah.
Mana ada tekhnologi bisa menjajah kita? Omong kosong, pikirku waktu itu.

Namun ternyata itu benar-benar terjadi tahun-tahun ini. Toh ternyata kita dijajah oleh produk luar negeri.
Kenapa sih kita tidak bangga dengan negeri sendiri?
Oh tentu aku sangat bangga pada negeriku ini.
Pada alamnya yang masih alami.
Pada tari-tarian daerahnya, pada rumah-rumah adatnya, bahasa-bahasa daerahnya.
Indonesia sangatlah kaya, bukan?

Namun mengingat sisi lain dari negara kita, oh Tuhan korupsi dimana-mana.
Bedebah hidup makmur dan berjaya.
Mana Indonesia yang katanya sangat kaya?
Mana Indonesia yang katanya Tanah Surga?

Hutang kita menggunung pada negara-negara adidaya.
Rakyat kita yang melarat, hidup mengais harta bermandikan peluh namun tak dapat apa-apa.

Ini bukan yang diharapkan Bapak-Bapak Pembangun Bangsa, tentu.
Bukan, bukan seperti ini Indonesia yang diinginkannya.
Dulu, mereka rela menumpahkan darah pada bumi pertiwi demi memimpikan Indonesia yang merdeka, yang makmur jaya!
Bukan yang berserakan hutang dimana-mana.
Bukan yang rakyatnya melarat dimana-mana. Bahkan rela menjadi babu di luar negeri!

Aku bahkan tak tahu apa yang harus aku lakukan terhadap negeri ini. Apakah aku harus turun tangan atau berpangku tangan saja?
Jelas yang pertama jawabannya.
Namun apa yang bisa aku lakukan untuk negeri ini?
Sebatas mengetik bait-bait nasionalisme? Cukupkah? Tentu tidak.

Selasa, 24 Desember 2013

Mungkin Aku yang Keterlaluan

Uap nafasku di kaca menuliskan nama kita berdua. Aku sedang dalam perjalanan menuju Ibukota negara, menjauh dari titik tempatmu berada.

Beribu kilometer jauhnya darimu, entah kenapa aku masih dapat mengingat jelas rupamu. Terngiang jelas suaramu dalam setiap tidurku. Terbersit senyum dan tawamu setiap aku membuka mata.

Gerimis mengguyur membawa aroma tubuhmu. Dari kejauhan aku berpikir sedang apa dirimu?

Perjalananku masih 6 hari lagi. Lama tak bersua aku menerawang setiap detail wajahmu dalam foto. Foto kita berdua saat persami dulu.

Persami, satu-satunya kenangan kita yang sudah basi. Padahal sudah akhir Oktober lalu hingga hampir tahun baru aku masih tersenyum ketika mengenang itu. Kurasa kau pun begitu, iya kan? Entah kenapa aku selalu melihat mimik kebahagian di wajahmu ketika seorang guru mengungkit tentang kegiatan persami itu. Apalagi membahas tentang pensi.

"Dalam pola lingkaran dansaku, kaki-kaki kita saling bertemu, tangan kita saling menyatu, matamu dan mataku saling tahu, bahwa ada sesuatu."

Di luar itu, kita tidak punya kenangan apa-apa, selain arti tatapan dan senyumanmu yang bisa jadi tidak akan pernah kau ungkap. Berbulan-bulan setelah Oktober, aku mengorek kamus-kamus sastra berusaha menulis segala hal tentangmu. Bukan hanya itu, aku mendedikasikan semuanya untukmu, menurutku.

"Setiap seniman pasti punya bintangnya sendiri-sendiri." - Perahu Kertas

Ah aku bukan seorang seniman, bukan juga seorang penyair. Aku hanya senang bermain padan kata, mencari-cari filosofi seputar cinta. Tapi aku memilihmu menjadi bintangku, boleh?

Mungkin sudah terlalu basi bahwa ternyata aku masih menulis tentangmu hingga hari ini. Aku pun terkejut mengetahui bahwa jemariku masih betah menulis serba-serbimu, bahwa pikiranku masih gigih mengimajinasikan sosokmu.

Aku sempat mencetak fotomu denganku, menempelkannya pada dinding kamar. Kadang terpikir olehku, untuk apa? Apa gunanya aku menempel-nempel fotomu, menulis-nulis namamu, berimaji tentang sosokmu? Kau bahkan tak lebih dari sekedar teman SMA yang bisa jadi hanya kebetulan saja kita menari bersama. Kau toh sedang menjalin hubungan dengan wanita lain, sudah jelas tidak ada pintu bagiku untuk sekarang atau berbulan ke depan.

Masih memikirkan sampai detik ini saja merupakan kesalahan besar. Apalagi dengan lancang beraninya aku menulis tentangmu, mendetailkan bagaimana dirimu, bahkan sampai merindukanmu. Mungkin aku yang keterlaluan.

Tapi toh di dunia ini tidak ada yang sempurna. Seperti aku yang tidak bisa mencintaimu dengan sempurna atau tidak bisa memilikimu seutuhnya.

Ya Tuhan, awalnya aku ingin menulis jurnal perjalananku. Tapi apa yang aku lakukan? Lagi-lagi tentangmu.

Maafkan aku atas segala keterlaluanku selama ini dan kumohon tetaplah bersama seiring langkahku, sebagai seorang teman. Teman baikku.

Dari Pengecut untuk Bapak Presiden

Wahai Bapak Presiden yang kakinya tak pernah ternodai.

            Maafkan aku karena telah menjadi seorang pengecut. Pengecut yang hanya diam melihat arti makmur sentosa yang ternyata hampa. Aku tidak tahu, apakah Bapak pernah melihat semua kehampaan ini? Tapi aku melihatnya, dengan mata kepalaku sendiri. Sebuah perjalanan kecil yang kulakukan membuatku mengerti bagaimana susahnya hidup bagi rakyat kecil dan bagi mereka yang tahu mana yang benar.

            Wahai Bapak Presiden yang bajunya selalu wangi.

            Mereka dengan susah payah menjalani hidup ini. Bahkan mereka ditindas di negaranya sendiri. Mencari nafkah bagaikan hidup di sarang harimau. Setiap kau melangkah, tanpa rasa iba, sang harimau dapat menerkam tiba-tiba. Mencari nafkah bagaikan memilih antara dosa dan pahala. Mau yang haram atau yang halal?

            Wahai Bapak Presiden yang hidupnya selalu tercukupi.

            Asal Bapak tahu, negrimu tidaklah makmur sentosa Pak!
            Dari Pengecut untuk Bapak Presiden.
            

Jumat, 06 Desember 2013

My Second Sketch - Couple


Here is my second sketch and it's show me and someone.
This picture is take before I join Choir Competition and after he's done with his sport lesson.
At first, I draw our face but it's so bad. So I erase it but I think it's not fucking perfect.

I dont know,
I think it's not as well as ma first. And it's all just weird enough.
But I wont give up and will try to show you my best.


Kamis, 05 Desember 2013

Getting Ready for Christmas


This morning I went to xoxo with ma mom. That an accecories shop that sale many unique things.
But today, remember it's almoust Christmas, they sale many things for Christmas, such as : snow ball, christmast tree, Santa Claus hat, Santa Claus dolls, and many more.
And I bought a fucking cute mini snow ball at the price of Rp. 19.000,-




I also get packet from Switzerland, that is a merci chocolate and I love it so much!!! <3 <3 <3
In ma plan, I'll buy red dress for complete my christmas.
Cause actually I am mosleem so my family doesnt celebrate this christmas.
So, I think it's enough for me if I wear red dress with santa claus hat for celebrate this christmas!

My First Sketch


Hello Guys!
By the way, thank you for visit ma blog.
And on this page I put ma first sketch. This is a boy that so meaningful for ma life, lately.

I always want skilful on drawing.
Everynight I stay to watching youtube for Tutorial Drawing and I get many helpful trick to draw.
So, I start to try draw ma own.
Then I choose this figure, cause nobody else wants me to sketch.
And this is the result.

Actually I little suprised with this cause, "Oh My God, I've done ma first well, I think."