Selasa, 24 Desember 2013

Dari Pengecut untuk Bapak Presiden

Wahai Bapak Presiden yang kakinya tak pernah ternodai.

            Maafkan aku karena telah menjadi seorang pengecut. Pengecut yang hanya diam melihat arti makmur sentosa yang ternyata hampa. Aku tidak tahu, apakah Bapak pernah melihat semua kehampaan ini? Tapi aku melihatnya, dengan mata kepalaku sendiri. Sebuah perjalanan kecil yang kulakukan membuatku mengerti bagaimana susahnya hidup bagi rakyat kecil dan bagi mereka yang tahu mana yang benar.

            Wahai Bapak Presiden yang bajunya selalu wangi.

            Mereka dengan susah payah menjalani hidup ini. Bahkan mereka ditindas di negaranya sendiri. Mencari nafkah bagaikan hidup di sarang harimau. Setiap kau melangkah, tanpa rasa iba, sang harimau dapat menerkam tiba-tiba. Mencari nafkah bagaikan memilih antara dosa dan pahala. Mau yang haram atau yang halal?

            Wahai Bapak Presiden yang hidupnya selalu tercukupi.

            Asal Bapak tahu, negrimu tidaklah makmur sentosa Pak!
            Dari Pengecut untuk Bapak Presiden.
            

2 komentar: