Jumat, 17 April 2015

Waktu Tlah Sampai

Pagi hari, saat Sang Saka mulai menyapa.
Aku tersenyum terkantuk-kantuk.
Berangkat ke sekolah.

Suatu sore, saat senja berebut petang.
Ombak lautan menyapu batas.
Berputar ke arah kanan.
Lalu berhenti di angka dua belas.

Dini hari, saat gelap telah datang.
Angin mendesau dari kejauhan.
Mengantarkan embun ke arah Selatan.

Aku ada disana.
Menjadi buih yang berwarna biru.
Dan aku pun ada disana.
Sebagai butir embun yang merindu.

Ketika denting jam berhenti,
Riuh ombak mulai padam dan tiada lagi suara angin,
Saatnya aku berbicara,

Selamat Ulang Tahun, Kawanku.
Selamat menikmati manisnya tujuh belas.
Dan tetap semangat, bila suatu saat terasa pahit.

Selamat Ulang Tahun, Sahabatku.
Semoga kau menjadi semakin baik.
Dan terkabul semua harapmu.
Serta membanggakan kedua orang tuamu.

Selamat Ulang Tahun,
Semoga kau terus menjadi temanku.
Maka aku akan mengucapkan selamat lagi tahun depan.
Dan tahun-tahun depannya lagi.

Semoga semakin dewasa di umurmu yang sekarang.
Dan selamat mendapat KTP dan SIM.

Selamat karena ulang tahun dan mendapat banyak ucapan.
Semoga seluruh doa untukmu terkabulkan.


Sa, mungkin semua ini hanyalah tulisan.
Jadi, jangan terlalu dipedulikan.
Dan perasaanku, jangan terlalu kau pusingkan.

Aku senang bisa menjadi seperti sekarang.
Ku harap kau juga senang, dan merasa nyaman.

Terus seperti ini saja aku senang.
Karena maju rasanya terlalu menakutkan.

Sudah ya Sa,
Selamat melanjutkan tidurmu.
Sampai ketemu di sekolah.
Dan semoga umurmu panjang, biar kita selalu berjumpa.

Sekali lagi,
Selamat Ulang Tahun, yang ke-tujuh belas :)
Tetaplah menjadi temanku yang manis, ya.

Kamis, 16 April 2015

DI DALAM HATIKU - berantakan

Selamat pukul setengah sebelas malam.
Dua hari menuju ulang tahunmu.

Susah rasanya menahan debar dalam hatiku.
Dan menahan perasaan yang meledak-ledak
Tentu tak semudah yang kau pikirkan.

Susah menahan rindu.
Dan mencari-cari modus ingin bertemu.

Terimakasih sudah mau jadi sasaran perasaanku.
Karena susah sekali terjatuh untuk orang lain.
Setelah aku terjatuh karenamu.

Dua malam tahun baruku selalu merindukanmu.
Dan semoga tahun depan masih begitu.
Sehingga tiga tahun SMA-ku praktis disesakkan olehmu.

Aku mohon maaf sekali karena aku tak bisa berhenti menulis.
Mohon maaf karena tak bisa biasa saja.
Ku harap kau mau memaafkanku.

Aku sangat gugup duduk di depanmu.
Bagaimana kamu yang satu bangku di belakangku?

Aku tak pernah punya alasan untukmu.
Aku tak pernah dapat menjawab pertanyaan orang-orang.
Tapi aku juga heran, kenapa semuanya terlalu penasaran?

Kawan, mungkin kau sudah tidur?

Aku malu sempat menggunakan kata sayang di tulisan yang lalu.
Walau itu hanya penyeimbang rima saja.
Agar terdengar indah, atau entahlah. Hehe.

Sampai jumpa besok pagi.
Dan besok paginya lagi.

Selamat malam,
Dan semoga tidur nyenyak.
Maaf tulisanku berantakan, hehe.

Minggu, 12 April 2015

Rindu untuk Dirimu

Sayang, malam ini hujan.
Dan kau sedang berlibur di daerah tanpa sinyal.

Sayang, udara sangat dingin.
Dan mungkin kau sedang berlindung dari hembusan angin.

Hehehe, kau lagi apa sekarang?
Aku rewel tak mengetahui kabarmu sejak tadi sore.
Padahal aku sangat ingin dikirimi foto-foto.

Meski katanya daerah pantai jarang hujan,
Aku sangat penasaran,
Apakah disana hujan?
Dan apakah kau kedinginan?

Cepatlah pulang dan balas pesan singkatku.
Aku rindu, hehe.
Aku bingung harus ngapain.
Aku bosan menonton drakor dan ingin chatting sama kamu.

Kau malam ini makan apa?
Tidur dimana?

Kalau mungkin disana tidak hujan,
Hawa hangat dan langit kemerahan,
Ku harap kau dapat tidur dengan nyaman.

Ketika kau melihat kemilau cahaya di perairan.
Bisik manja ombak lautan.
Atau rayuan lembut angin malam.
Ku harap kau sedang memikirkanku.

Dan ketika bulan hampir jatuh.
Lalu kau tertidur.
Ku harap kau masih memikirkanku.
Hehe.

Aku ingin sekali ikut kesana.
Rasanya seru membayangkan aku bermain bersamamu.
Kapan-kapan kesana lagi ya, sama aku.
Semoga kau mau!

Sayang, kau mau tidur jam berapa?
Tidurlah dengan aman.
Karena aku takut disana banyak ular.

Sayang, kau mau tidur jam berapa?
Udara semakin dingin.
Ku harap kau dapat hangat di dekat api.

Dan menu makan malammu,
Ku harap kau kenyang.

Dan besok pagi,
Ku harap kau mandi dengan segar.

Kalau kau sedang tak beratap,
Aku sedang tidak menatap langit,
Karena aku berada dalam kamar.

Tapi, kalau kau rindu.
Aku juga merindukanmu.

Sayang, masih pukul setengah sebelas.
Tapi rasanya sudah sangat malam.

Ku harap pagi cepat datang dan kau lekas pulang.
Aku akan selalu menunggumu datang.

Kamis, 09 April 2015

Apakah Itu Benar-benar Kamu?

Ini kisah tentang suatu sore,
Ketika mendung menggantung di langit timur.
Dan hujan turun dengan kakinya yang besar-besar.

Sesaat kemudian, udara menjadi sangat dingin.
Lalu kita mencoba untuk saling menghangatkan.

Tiba-tiba lagi kau melepas pelukan.
Dan aku terenyak menatap kau berlari menuju kejauhan.

Angin mengajakku menari ke arah utara.
Saat kau terus berlari sebaliknya.
Bintang malam membisikkan mimpi-mimpi.
Ketika bulan berdendang tentang perpisahan.

Aku melangkah ditemani aroma mawar.
Atau daun-daun kering di musim gugur.
Bagaimana kabarmu di selatan?

Pada langkahku yang ke-sekian ribu, saat petang datang.
Burung camar hinggap di sebelah kiri tapakku.
Dan cakarnya tenggelam di lumpur.

Kau tahu apa yang dia katakan?
Kicaunya bercerita tentangmu.
Lalu bernyanyi merdu, katanya kau sudah punya yang baru.

Bibirku membisu namun imajiku berangan-angan.
Kakiku berjalan dan tanganku menggapai udara.
Kosong.

Dan ketika mataku terbuka pada hari yang ke-seribu.
Aku sadar jejakku sudah terlalu jauh.
Dan mungkin perasaanku sudah terbang.
Bersama angin.

Namun kian hari kian ku hirup angin itu.
Angin perasaanku sendiri.
Yang membuatku tak pernah sanggup.
Berhenti menyukaimu.

Lalu tiba-tiba saat memandang langit malam.
Aku merindukanmu.
Dan kedua bintang di ujung, seolah menatapku.
Menyiratkan balasan rindu.

Dan ini terjadi ketika senja.
Ketika ku pikir kau telah musnah bersama debu.
Ketika ku pikir hanya tinggal aku dan perasaanku.

Aku menoleh.
Dan baru sadar.
Telah terulur tali panjang di belakangku.
Yang ujungnya terikat di antara kakimu dan kakiku.

Kawan, apa kau masih di ujung sana?
Langit yang oranye membuatku menyipitkan mata.
Dan dengan mata yang terpejam.
Dengan bodohnya aku memutuskan untuk kembali jatuh.

Pada pagi dan siang selanjutnya.
Aku melihat sosok hitam berjalan mendekat.
Dan aku tahu itu kamu.
Dan kita akan bertemu dalam rindang pohon kenari.
Yang jaraknya masih dua ribu langkah lagi.

Aku tanpa malu menggulung bagianku.
Dan berlari ke arah kenari.
Berlari ingin menemuimu.

Hingga tinggal seratus langkah di hadapanku.
Kita saling berhenti dan memperhatikan.
Apakah itu benar-benar kamu?

Selanjutnya kau memimpinku di depan.
Karena aku terlalu takut untuk berdampingan.
Kita berjalan bersama-sama ke arah barat.
Tapi, apakah itu benar-benar kamu?

Kawan, aku tak berani mendekat.
Karena takut kau akan memelukku.
Lalu kembali kabur seperti masa yang lalu.

Kawan, aku ingin menegurmu.
Tapi terlalu malu untuk menepuk pundakmu.
Kawan, apa itu benar-benar kamu?

Dengan jarak seratus langkah saja aku sudah cukup senang.
Dan selalu berdebar.
Kamu, bagaimana?
Dan ngomong-ngomong, kita akan kemana?

Sabtu, 04 April 2015

Apa Kabar? Masih Rajin ke Gereja, kan?

Maaaaaaasssss
Apa kabaaaaar?
Sekolah dimana sekaraang?

Nggak kerasa udah 2 tahun lebih mas.
Walau aku sempat menemukanmu beberapa waktu yang lalu.
Kamu kini hilang lagi.
Dimana? Aku tak tau.

Mas, baikan yuk mas.
Temenan lagi, biar aku bisa cerita-cerita.
Sebagai kakak kelas, bukan sebagai mantan.

Gak nyangka aja tiba-tiba terentang jarak diantara kita.
Jarak yang begitu jauh.
Hingga aku tak dapat meraih tanganmu.
Dan kau tak akan menoleh ketika aku memanggilmu.

Padahal aku rindu.
Ingin bercerita.
Tentang hatiku.
Aku hanya ingin kau tahu.

Bahwa,
Mas, susah sekali rasanya menerima cowok setelah putus sama kamu.
Susah juga rasanya dapetin cowok yang aku taksir.
Sekalinya udah deket aja, akunya ditinggalin.

Tiba-tiba aku pengen ketemu kamu mas.
Pengen nanya.
Kamu kenal gak sama angin? Kenal sama bintang?
Mereka dua orang yang bikin aku menangis.
Setelah aku puas menangisimu.

Kalau mungkin mas nggak kenal, nggak apa.
Aku cuma pengen cerita aja.
Mas mau kan mendengarkan?

Walau aku nggak tau kamu sedang apa.
Sedang berada dimana.
Dan bersama siapa.
Aku yakin kau sedang memandang gerhana yang sama.

Walau aku menikmatinya sendirian di bawah langit.
Aku tak peduli kalau kau berduaan.
Cuma ingin minta waktumu.
Sedikit saja, untuk mendengarkan ceritaku.

Dan aku sebenarnya sudah hampir lupa.
Sama kenangan-kenangan kita.
Tapi masih saja aku segan untuk beli es buah dekat stasiun.
Karena rasanya aku cuma berani kesana sama kamu.

Aku itu penasaran sekarang Mas sehari-hari ngapain.
Sepeda Mas sekarang apa.
Helmnya apa.
Hapenya apa.
Apa sudah ganti?

Dan apa jaket dariku masih dipakai?
Atau sudah dijadikan serbet?
Kaos dariku juga. Apa sudah jadi keset?

Dan...rumahmu.
Apa masih disitu mas?
Dan...gerejamu.
Apa masih rajin ke gereja mas?
Karena aku sudah tak lagi berpapasan dengan mobilmu.
Apa mobilmu sudah ganti juga?

Begitu banyak perubahan terjadi padamu.
Hingga aku tak dapat mengenalimu.
Dan aku tak dapat memanggil namamu.
Karena aku tak tahu siapa orang yang ada di depanku.

Mas, jangan nakal-nakal.
Kasian bapak sama ibukmu.
Semoga studimu cepat selesai.
Katanya mau kuliah di ITS, nggak jadi?

Sudah ya mas, sekian dulu sapaanku pada malam gerhana.
Semoga cepat dibalas pesan facebookku.
Semoga kita bisa bertemu.
Selanjutnya aku akan menceritakan semuanya padamu.

Selamat Malam.


Jumat, 03 April 2015

Kenapa Selalu Jatuh?

Selamat Pagi,
Selamat Hari Paskah,
Dan Selamat Libur.
Selamat Bangun Kesiangan.

Pagi ketiga di bulan keempat.
Lima belas pagi lagi menuju ulang tahunmu.
Kau ingin kado apa?

Sebenarnya aku sudah menyiapkan sesuatu.
Dan tak sabar ingin segera menunjukkannya padamu.
Tapi, kalau perasaan ini saja bisa ku tahan, berarti aku juga bisa menahan keinginanku.

Iya, aku sedang menahan hatiku.
Berusaha untuk tidak bercerita pada teman-teman.
Dan menahan senyum saat menatapmu diantara banyak orang.
Lalu juga mencoba untuk tidak terlalu berharap.
Karena tak mau memendam sakit bila jatuh.

Hubungan yang sembunyi-sembunyi saja sudah cukup.
Ketika tak ada orang yang tahu jelasnya.
Bahkan kita pun tak tahu bagaimana.

Kenapa ya rasanya aku selalu merebutmu dari yang lain?
Padahal aku tak bermaksud begitu.
Tapi rasanya aku berdosa sekali.

Dan kenapa aku selalu jatuh pada kamu?
Aku heran.
Jangan jangan kamu pakai bantuan dukun?

Kamu juga selalu menangkapku.
Lantas, bagaimana kita bisa menjadi teman?

Tapi, Temanku,
Terima kasih ya sudah sangat baik dan rela menangkapku.
Maka kalau pun kita jatuh, aku tak akan sendirian.
Ku harap kau masih bersamaku.
Walau kita jatuh.
Maka, kita dapat sakit bersama-sama dan saling menyembuhkan:)