Minggu, 29 Maret 2015

Salam!

Untuk kamu,
Yang membuatku tiga kali jatuh cinta.
Dan berjuta kali membenci.

Untuk kamu,
Yang besok duduk di belakangku.
Dan bisa melihat punggungku.

Selamat malam dan selamat belajar ya.
Semoga kau nyaman ditemani Sang Bulan.
Semoga Sang Bulan tak lupa menyampaikan salamku.

Kamu tahu nggak,
Aku merasa senang dengan semua yang berjalan ringan.
Dan tanpa memikirkan pendapat orang.

Aku senang bisa chatting walau tak setiap malam.
Lalu saling memandang pada setiap pagi.

Sebenarnya aku ingin sekali belajar bersamamu.
Tapi aku tak mampu.
Karena aku selalu gugup berada di dekatmu.

Sayang sekali ya,
Namun tak apa lah.
Yang penting tetap belajar bersama walau hanya lewat WA.

Tapi, seharian ini kenapa kamu tidak menghubungiku?
Padahal chatmu muncul di grup kelas.
Tapi, kalau kamu mau fokus belajar ya nggak apa sih.

Aku juga maunya begitu.
Tapi aku panas sejak tadi pagi dan menangis tadi sore.
Apa aku demam uts?

Kamu semangat ya belajarnya, semangat utsnya.
Tadi ada yang nyemangatin aku sih.
Walau aku pengennya disemangatin kamu.

Hehe,
Jadi, apa bulan sudah menyampaikan salamku?
Semoga sudah, karena sebelumnya dia tidak pernah lupa.

Dan, apakah kau menitipkan salam juga?
Kalau iya, aku akan menunggu sampai sebelum tidur.
Semoga bulan cepat kembali dan menyampaikannya.
Amin.

Jaljaeyo❤

Selasa, 24 Maret 2015

Berlari&Memelukmu

Sore yang melelahkan dan bau,
karena aku harus segera mandi.

Bagaimana denganmu? Apa badanmu sudah segar kembali?

Kala senja begini, aku ingin mengatakan sesuatu.
Semoga kau membacanya.

Kawan,
Sekuat apa pun aku berteriak tidak.
Sekeras apa pun aku menggelengkan kepala.
Hatiku selalu menggangguk malu-malu.

Dan walau hal ini cukup membuatku bingung.
Aku sangat ingin memenangkan pikiranku, daripada hatiku.
Namun aku tak tahu bagaimana.

Karena setiap malam aku selalu membayangkanmu sedang belajar.
Lalu setiap pagi aku mengharapkan segera bertemu kamu.
Dan setiap bel berbunyi, ku harap kita bisa pulang bersama-sama.

Di sore hari yang hujan,
Aku berharap bisa kehujanan bersamamu.
Walau nyatanya, kita berteduh di tempat berbeda.

Ketika aku berjalan pulang,
Aku ingin sekali diantar pulang kamu.
Dan kita mengobrol, walau hanya di atas sepeda.

Pada malam saat aku mau tidur,
Rinduku selalu menagih.
Ingin menghubungimu.
Walau ku tahu ini sangat memalukan.

Lantas bagaimana pikiranku dapat menang?
Kalau sepanjang hari aku selalu berpikir perasaan.

Kemudian selama aku melihatmu,
Aku berpikir kita memang tak mungkin lagi.
Hingga kau menoleh dan tersenyum, maka aku kembali bersemu.

Ayo, buang perasaan ini jauh-jauh.
Walau hatiku merasa sayang.

Lalu, apa yang harusnya aku lakukan?
Dan kita, apa yang akan terjadi pada kita?

Kawan,
Aku merasa sangat sayang pada hubungan kita yang selalu nanggung.
Aku merasa sayang pada perasaan yang selalu hampir.

Kawan,
Tidakkah kau ingin berlari dan memelukku?
Karena aku sangat ingin melakukan itu.

Minggu, 22 Maret 2015

Hehe...💦💦

Kawan,
Ketika semua orang mengatakan selamat pagi atau malam, aku menyapamu dalam siang.
Selamat siang dan selamat berpanas-panasan.

Ngomong-ngomong, aku kesulitan menulis.
Karena hatiku berdebar sejak tadi malam.
Walau sebenarnya tidak terjadi apa-apa.

Terima kasih untuk sabtu malam yang menyenangkan.
Dan mengantarku pulang sangat malam.
Dan mengembalikan ikanku yang ketinggalan.

Aku harap kau tidak bosan mendengar terima kasihku.
Aku harap kau tetap nyaman membaca kata maafku.
Dan jangan pernah berhenti membaca tulisanku.

Sejujurnya aku malu, dan sedikit ragu.
Kenapa hatiku selalu berakhir padamu?
Dan aku yang selalu layu saat melihat senyummu.

Dan kali ini aku terlalu takut.
Untuk mengharapkan yang sama darimu.
Karena aku tak ingin seperti yang lalu.

Kalau pun lagi-lagi perasaan ini ada.
Ku harap jangan ada yang memulai diantara kita.
Karena aku tak ingin segera mengakhirinya.

Kalau memang perasaan ini masih sama,
Maka aku akan mencintaimu dari belakang.
Karena kamu selalu berada di depan.

Aku berdebar melihatmu dari spion kaca.
Dan kata-katamu yang berbaur dengan angin.
Dan akan selalu begitu.

Entah kapan perasaan ini mati.
Entah kapan kita dapat berhenti.
Aku penasaran, bagaimana akhirnya akan terjadi.

Apapun yang kau rasakan,
Ku mohon kau jangan memulai.
Dan jangan mengulurkan tangan.

Dan bagaimanapun hatiku,
Ku mohon tolonglah aku.
Menghilangkan perasaan kepadamu.

Ku mohon jalanlah lurus, jangan berbalik arah.
Ku mohon tetaplah di depan.
Tak peduli padaku yang di belakang.

Bahkan sekarang aku takut berjalan beriringan.
Takut kau melihat semu di wajahku.
Atau senyum yang tersipu.

Dan bahwa aku sulit berkata-kata.
Juga panas dingin tubuhku.
Saat kau akan datang.

Aku terlalu malu pada orang-orang, juga padamu.
Aku terlalu takut pada diriku, juga dirimu.
Dan ragu pada perasaan yang masih sama.

Tetaplah menjemputku, karena aku merasa senang.
Tetaplah di depanku, dan akan kulihat kau dari belakang.
Sekali lagi terima kasih ya, dan maafkan perasaanku yang keterlaluan.

Hehe...
Selamat siang, kawan.
Semangat take filmnya...

Selasa, 17 Maret 2015

Maret-ku Tak Boleh Layu

Maret,
Ketika hujan sedang deras-derasnya.
Selalu datang bersama angin.
Menghalang mata untuk melihat indahnya senja.

Maret,
Ketika hawa menjadi sangat dingin.
Dan pagi hari yang begitu basah.
Sehingga kau harus ke sekolah dengan jaket rapat.

Maret,
Waktunya daun yang gugur bersemi kembali.
Yang malu-malu pada kuncup pertama.
Yang mekar karena tersiram cahaya.

Maret,
Saat rindu kembali menggebu.
Saat mataku kembali menatapmu.
Dan mengagumimu dengan pilu.

Maret,
Ketika perasaan itu muncul tanpa kata-kata.
Karena mata telah saling bicara.
Dan sungging senyum telah sama-sama mengaku.

Maret,
Perasaanmu dan aku tak kenal malu.
Diam-diam membisikkan kata rindu.
Dan segenap jiwa menyuarakan cinta.

Maret,
Dengan tanganmu kau berkata.
Langkah kakimu kemudian berbicara.
Dan aroma tubuhmu yang menyapa.

Maret,
Di pagi hari yang gelap.
Di sore hari yang gulita.
Apakah kau merindukan cinta?

Maret,
Tak lelahkah engkau bersemu malu-malu?
Dan menunduk lalu tersipu.
Atau pergi menjauh.

Maret,
Apakah perasaanmu sekuat itu?
Kuharap tidak karena aku membutuhkan bantuanmu.

Mari kita hilangkan perasaan ini dan mulai melangkah satu-satu.

Bantu aku melupakan kamu dan mulai menarik garis baru.

Ayo kita tiadakan perasaan yang memberatkan ini dan tetap berjalan berdua sebagai seorang teman.

Dan sepenuh hati kuharap, kau mau membantuku. Karena aku tak mau Maret-ku jadi layu.

Kamis, 12 Maret 2015

Untuk: Ibukmu.

Ibuk,
Terima kasih sudah melahirkan anak yang begitu manis.
Yang pernah membuatku berbunga walau pada akhirnya jatuh.
Yang pernah membuatku semangat datang ke sekolah walau pada akhirnya rapuh.
Yang pernah menjadi teman belajarku lewat wa, walau akhirnya saling tak menyapa.

Ibuk,
Aku harap anak ibuk menjadi anak yang baik.
Meski telah banyak air mata jatuh karenanya.
Semoga anak ibuk dapatkan cinta yang baik.
Diantara sejuta gadis yang memimpikannya.
Semoga anak ibuk selalu membahagiakan kedua orang tuanya. Dalam diam tawanya.

Ibuk,
Aku pernah sangat mencintainya.
Dan belum bisa benar-benar melupakannya.
Aku pernah sangat menginginkannya.
Dan belum bisa berhenti merindukannya.
Aku pernah dibuat tidak bisa belajar.
Karena terus memikirkannya.

Ibuk,
Air mataku pernah jatuh karenanya.
Namun jantungku belum bisa berhenti berdebar - saat berada di dekatnya.
Dan kata-kataku menari dengan indahnya - lagi-lagi karena dia.

Ibuk,
Bagaimana aku bisa mengabaikan tatapannya?

Ibuk,
Bagaimana aku harus merespon senyumnya?

Ibuk,
Ajari aku untuk tidak menoleh ke arahnya.

Ibuk,
Ajari aku untuk menunduk dan tidak membalas senyumnya.

Ibuk,
Tolong katanya padanya, jangan pernah menoleh dan tersenyum.
Karena aku lelah sakit, lelah berdebar, lelah menangis - karena dirinya.

Rabu, 11 Maret 2015

KAMU (yang sama dan sederhana)

Backsound : Sepatu - Tulus

Untuk seseorang tadi siang,

Apa yang kau rasakan?
Ketika langit melintang biru.

Apa yang kau rasakan?
Ketika mentari bersinar syahdu.

Lalu apa yang kau rasakan?
Ketika langit mulai kelabu.

Kawan,
maaf aku mengharapkan turunnya hujan hanya karena ingin kehujanan bersamamu.
Maaf jika kau pulang dengan jaket yang basah.
Dan terima kasih sudah mengantarku sampai rumah.

Kawan,
apakah kau juga mengharapkan yang sama?
aku pikir bukan hanya aku, namun juga dirimu.

Aku sangat membencimu, karena masih membuatku tersenyum malu.
Dan senyummu, yang masih membuatku rindu.
Juga tawamu yang terdengar palsu, untuk gurauku yang tidak lucu.


Untuk seseorang di depanku,

Terima kasih sudah menoleh ke belakang.
Walau aku terlalu malu untuk mengulurkan tangan.
Terima kasih sudah menoleh ke belakang.
Ketika akan minum es degan.
Dan terima kasih sudah berjalan di depanku.
Serta pundakmu sebagai pegangan.

Meski ku tahu kabarmu tidak baik-baik saja.
Aku selalu berharap sebaliknya.

Dan tetaplah menjadi sosok yang sama.
Dan janganlah kau ubah senyummu.
Dan jangan kau ubah sorot matamu pula.
Karena aku akan selalu merindukannya.

Kawan,
tolong katakan padaku bila rindu ini mengganggumu.

Kawan,
tolong katakan bila aku merepotkanmu.

Maka kau hanya tidak perlu menoleh kearahku - yang selalu berada di belakangmu.

Tetaplah menjadi dirimu, yang kucintai dengan sederhana.
Meski aku, tak pernah bisa mengupload foto kita bersama.

Tetaplah menjadi kamu, yang membuat wajahku bersemu.
Meski aku, tak pernah bisa tampil berdua bersamamu.

Dan tetaplah menjadi kamu, yang sama dan sederhana.
Karena aku mencintaimu!

Jumat, 06 Maret 2015

Very Simple Good Night

Untuk diriku - yang terlalu malu untuk bilang "Aku pulang dulu."

Untuk diriku - yang masih deg-deg-an saat kau melihatku.

Untuk diriku - yang gugup saat kau menyenggol lenganku.

Untuk diriku - yang terkadang masih merindu.

Aku ingin mengucapkan selamat malam untukmu. Dan semoga hawa yang dingin tidak mengganggu tidurmu. Juga rintik hujan yang masih turun, semoga tak mengusik lelapmu.

Kuucapkan selamat malam. Walau langit belum terlalu gelap. Dan hari belum juga larut. Serta jarum jam belum pada pukul sepuluh.

Kuucapkan selamat malam.

Karena aku ingin jadi yang pertama, sebagai ucapan pengantar tidurmu.